Rabu, 11 Februari 2009

Rendahkan Hati, Tinggikan Harga Diri




Seharusnya seorang mukmin itu ibarat padi. Makin berisi makin merunduk. Malam itu Umar bin Abdul Aziz sedang berada di kediamannya. Khalifah kaum Muslimin yang keadilannya dikenal hingga kini itu, sedang menulis. Tiba-tiba terdengar pintu diketuk. Seorang tamu masuk dan berbincang dengan sang khalifah. Saat itulah lampu yang berada di atas meja Umar redup dan sepertinya kehabisan minyak.

Sang tamu buru-buru bangkit dari duduknya dan berkata, “Biar saya yang memperbaikinya.” Maksudnya, mengisi ulang minyak bakarnya.

“Menyuruh tamu, bukanlah perbuatan mulia,” ujar Umar.

“Kalau begitu, kubangunkan pembantumu!”

“Ia baru saja tidur,” jawab Umar. Ia pun segera bangkit dari duduknya dan mengisi minyak lampu.

“Engkau sendiri melakukannya, wahai Amirul Mukminin?” tanya sang tamu heran.

“Aku melakukannya atau tidak, tetap saja aku Umar. Tak ada yang berkurang dariku. Sebaik-baik orang adalah yang tawadhu di sisi Allah,” jawab Umar.
Penggalan kisah itu hanyalah salah satu episode dari kehidupan Umar bib Abdul Aziz. Selain dikenal adil, ia juga mengajarkan dan mempraktikkan sikap tawadhu. Seperti kisah di atas.

Bagi seorang Mukmin, sikap tawadhu menjadi modal merengkuh kesuksesan: dunia dan akhirat. Al-Qur’an banyak merekam nasib sosok-sosok sombong yang akhir hayatnya terjerumus pada kehinaan. Iblis adalah contoh konkret dari sosok yang memiliki sifat takabbur. Dengan sombongnya ia mengaku di hadapan Allah bahwa dia lebih baik dari Adam. Ia mengatakan bahwa api lebih baik daripada tanah. Dengah demikian, ia menganggap dirinya lebih mulia, dan akhirnya merendahkan orang lain. Sikap iblis inilah yang mengundang murka Allah dan akhirnya mengenyahkannya dari surga.

Dalam sejarah manusia, Fir’aun adalah sosok yang sangat sombong. Ia pernah memerintahkan teknokrat pribadinya, Haman, untuk membuat bangunan tinggi agar sampai ke pintu-pintu langit dan dapat melihat Tuhan Musa. Allah berfirman, “Dan berkatalah Fir’aun, ‘Hai Haman, buatkanlah bagiku sebuah bangunan yang tinggi supaya aku sampai ke pintu-pintu, (yaitu) pintu-pintu langit, supaya aku dapat melihat Tuhan Musa dan sesungguhnya aku memandangnya seorang pendusta,” (QS al-Mukmin: 36-37).

Tawadhu’ berarti menghargai orang lain. Sikap menghargai orang lain merupakan sifat terpuji. Kita menganggap bahwa orang lain lebih baik, lebih benar dan lebih mulia. Tentu, penghargaan dan pengagungan yang proporsional. Bukan taklid buta.

Rasulullah saw adalah orang yang sangat menghargai prestasi dan pendapat para sahabat dan pengikutnya. Menjelang Perang Badar, ia mengalahkan pendapatnya dan menerima ide Hubbab bin Mundzir untuk menentukan strategi perang. Pada Perang Uhud, ia menerima pendapat para sahabatnya yang ingin menyongsong lawan di medan perang, berlawanan dengan pendapatnya sendiri yang ingin menanti musuh di dalam kota. Usul Salman al-Farisi untuk menggali parit dalam Perang Khandaq, diterima dengan baik oleh Rasulullah saw. Dengan rendah hati Nabi saw menerima pendapat para sahabatnya.

Abdurahman bin Auf, seorang sahabat Rasulullah saw yang kaya sehingga para sejarawan menjulukinya dengan Si Tangan Emas, tak pernah membedakan dirinya dengan budak. Ketika ia sedang berada di tengah para sahayanya, orang-orang sulit membedakan, mana Abdurahman dan mana budaknya.

Sungguh, Allah sangat suka terhadap orang yang merendah di hadapan-Nya, sehingga diangkatlah derajat kemuliaannya ke tingkat yang sangat tinggi di hadapan semua makhluk. Allah berfirman, “Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih, mereka itu adalah sebaik-baik makhluk,” (QS al-Bayyinah: 7).

Sebaliknya betapa Allah sangat murka terhadap orang-orang yang menyombongkan diri di muka bumi. Allah berfirman, “Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri,” (QS an-Nisa: 36). Surga pun mengharamkan dirinya untuk dimasuki oleh orang-orang yang di qalbunya terdapat kesombongan walau hanya sebesar debu. Rasulullah saw bersabda, “Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan, walaupun seberat biji sawi,” (HR Muslim).

Rahasia hidup sukses atau hina, tidak terlepas dari seberapa mampu seseorang menempatkan dirinya sendiri di hadapan Allah SWT. Tawadhu, inilah kunci bagi siapa saja yang ingin memiliki pribadi unggul.

Seseorang akan lebih cepat berhasil jika ia mempunyai sifat tawadhu. Kunci terpenting untuk sukses adalah kesanggupan menyerap ilmu dan kemampuan mendengar serta menimba ilmu dari orang lain. Hal ini akan membuat kita semakin cepat melesat dibandingkan dengan orang-orang sombong, merasa pandai sendiri, mengganggap cukup dengan ilmu yang dimilikinya. Biasanya, orang seperti ini akan merasa dirinya tak lagi membutuhkan pendapat, pandangan, dan visi orang lain.

Kita, makhluk serba terbatas. Bahkan, hanya untuk melihat kotoran di mata atau hidung sendiri, kita tak mampu. Kita membutuhkan cermin dan alat bantu agar bisa menguji semua yang kita miliki atau melengkapi yang belum kita miliki.

Kita harus menjadi orang yang “tamak” terhadap ilmu, serakah terhadap pengalaman dan wawasan. Setiap bertemu dengan orang lain, lihatlah kelebihannya, simaklah kemampuannya, ambillah ilmunya. Hal ini takkan menjadikan orang tersebut bangkrut dan tidak memiliki kelebihan lagi. Sebaliknya, kemampuan orang yang kita mintai ilmunya akan semakin berkembang.

Sikap tawadhu sangat erat kaitannya dengan sifat ikhlas. Rangkuman keikhlasan seorang hamba ada pada ketawadhuan. Orang yang tawadhu, menanamkan keikhlasan dan bersarang di hatinya. Karena, ketawadhu’an lebih berfungsi horisontal. Tawadhu’ banyak berhubungan dengan manusia secara sosial. Sedangkan ikhlas, lebih bersifat vertikal, langsung pada Allah.

Seseorang belum dikatakan tawadhu kecuali jika telah melenyapkan kesombongan yang ada dalam dirinya. Semakin kecil sifat kesombongan dalam diri seseorang, semakin sempurnalah ketawadhuannya. Allah berfirman, “Aku akan memalingkan orang-orang yang menyombongkan dirinya di muka bumi tanpa alasan yang benar dari tanda-tanda kekuasaan-Ku. Mereka jika melihat tiap-tiap ayat-Ku, mereka tidak beriman kepadanya. Dan jika mereka melihat jalan yang membawa kepada petunjuk, mereka tidak mau menempuhnya, tetapi jika mereka melihat jalan kesesatan, mereka terus menempuhnya. Yang demikian itu adalah karena mereka mendustakan ayat-ayat Kami dan mereka selalu lalai dari padanya,” (QS al-A’raaf: 146).

Tawadhu adalah salah satu akhlak mulia yang menggambarkan keagungan jiwa, kebersihan hati dan ketinggian derajat pemiliknya. Rasulullah saw bersabda, “Barangsiapa yang bersikap tawadhu karena mencari ridha Allah maka Allah akan meninggikan derajatnya. Ia menganggap dirinya tiada berharga, namun dalam pandangan orang lain ia sangat terhormat. Barangsiapa yang menyombongkan diri maka Allah akan menghinakannya. Ia menganggap dirinya terhormat, padahal dalam pandangan orang lain ia sangat hina, bahkan lebih hina daripada anjing dan babi,” (HR al-Baihaqi).

Ironisnya, kini kesombongan menjadi “pakaian” yang dikenakan banyak orang. Suka membanggakan diri, merasa tinggi melebihi orang di sekitarnya, merasa orang lain membutuhkannya, suka memamerkan apa yang dimilikinya, dan tidak mau menyapa lebih dahulu menjadi fenomena yang mudah dilihat di mana-mana.

Hepi Andi [sabili]

Jumat, 06 Februari 2009



Sekali lagi, ikhlaslah!


“Sesungguhnya hari ini adalah satu hari di antara hari-hari Allah, tidak pantas diisi dengan kebanggan dan keangkuhan. Ikhlaskanlah jihadmu dan tujulah Allah dengan amalmu. Karena hari ini menentukan hari-hari yang akan datang.” Demikian kata-kata Khalid bin Walid di tengah-tengah berkecamuknya perang Yarmuk.

Kata ikhlas sudah begitu sering kita dengar dalam berbagai kesempatan. Bagi kader dakwah, semestinya ikhlas tidak boleh lagi menjadi sekadar retorika belaka, melainkan ia harus hadir dan ada dalam diri kita, menyatu dalam pikiran, hati, bersenyawa dengan jiwa, seirama dengan detak jantung dan tarikan nafas. Bersamanya kita memulai hari-hari, dengannya kita bekerja, membangun ukhuwah dan menapaki jalan dakwah ini.

Sungguh perlu kita sadari bahwa hati seorang hamba senantiasa dikepung dari berbagai penjuru oleh hawa nafsu, kepentingan sesaat, ambisi duniawi, rasa malas, hasrat kemaksiatan dan gejolak ingin dipuji serta disanjung. Kesemuanya ini mengintai kondisi lemah hati kita. Dan ketika kondisi lemah dan lalai mereka dapatkan, dengan segera mereka menembus hati kita dan menguasainya. Naudzubillah..

Karena itu saudaraku yang dicintai karena Allah, sudah sepatutnya kita menyadari dengan sepenuh hati, bahwa sejak kali pertama kita bergabung dengan dakwah ini, ikhlas telah menjadi tuntutan dan kewajiban yang mengikat diri kita sampai Allah menampakkan kemenangan bagi dakwah ini atau kita syahid dalam menegaknya dan membelanya.

Di sini saya tidak akan menguraikan makna ikhlas dengan kata-kata, kita semua bahkan telah menghafalnya diluar kepala. Saya ingin mengajak kita semua merenungi bersama kata-kata ini:

Apakah kita telah menjadikan ikhlas sebagai sesuatu yang menyatu dalam diri kita, melebur, menjasad, mendarah daging, menjadi bagian yang tak terpisahkan dalam diri kita?

Apakah ikhlas telah merasuk dalam pikiran kita sehingga membuat kita menjadi produktif sekaligus kreatif dalam mengeluarkan gagasan untuk membangun dakwah ini tanpa tendensi apapun selain kepada Allah Swt?

Apakah ikhlas telah melebur kedalam hati kita sehingga menjadikan kita mampu memandang segala permasalahan dakwah ini secara jernih, dan menjadikan kita mampu membangun ukhuwah, ukhuwah yang sebenarnya bukan sekedar hiasan kata apalagi untuk saluran hasrat dan nafsu sesaat?

Apakah ikhlas telah menjadi jiwa dalam setiap amal yang kita lakukan, sehingga menjadikan kita rela mengemban amanah serta melaksanakan apapun tugas-tugas dan kebijakan dakwah dengan penuh tanggung jawab, tanpa rasa berat dan tidak berharap balasan atas semua itu kecuali hanyalah dari Allah Swt?

Atau wahai saudaraku para kader dakwah yang saya cintai karena Allah, apakah ikhlas baru sekedar kata tanpa makna, atau ia cuma retorika yang kita suapkan kepada mutarobbi kita?

Saudaraku..

Takutlah kepada Allah, karena Dia Maha Melihat, Maha Mendengar, Maha Kuasa atas segala sesuatu. Sesungguhnya kemenangan dakwah ini sejak dulunya selalu terkait dengan keikhlasan para pendukungnya.

Mari kita kembali pada ashalah (keaslian) dakwah ini, sebenarnya apa motivasi awal kita memilih hidup di jalan ini? Apa yang kita inginkan ketika kita bergabung dengan dakwah ini? Izinkan saya untuk menjawabnya:

Motivasi awal dan keinginan kita adalah meraih ridho Allah, untuk itu kita akan ikut berputar bersama roda dakwah ini kemanapun ia berputar, tidak akan bergeser darinya karena kita yakin kebaikan itu ada bersama dengan dakwah dan kehinaan dunia akhirat bila memisahkan diri darinya. Semua itu kita lakukan sebagai sarana atau jalan untuk meraih keridhaan Allah Swt, lain tidak. Bagi kita, ridha Allah adalah imbalan terbesar dan termahal, karena itu kita sudah merasa cukup dengan imbalan itu.

Nabi Muhammad Saw pernah berpesan,” Jagalah Allah, niscaya Dia akan menjagamu”. Ungkapan hadits ini mengandung makna bahwa Allah berjanji akan menjaga dan melindungi kita dari segala macam gangguan, godaan dan bujuk rayu syetan entah itu berupa jin maupun manusia, selama kita menjaga keikhlasan hati hanya kepada Allah.

Wahai saudaraku..

Marilah kita jadikan ikhlas sebagai titik tolak segala perbuatan kita, gerak-gerik tingkah laku, sikap, kata-kata, dan perbuatan kita, menjadi akar dan pondasi visi dan misi kehidupan kita. Mari kita letakkan ikhlas di lubuk hati yang paling dalam hingga ia menyertai segala niat dan lintasan hati yang ada di benak kita. Semoga Allah Swt senantiasa menjaga kita semua. Amiin ya.. robbal ’alamin. 


Bila akhirat menjauhi kita

Akhirat. Kampung tempat segalanya berkesudahan. Mengakhiri jalan panjangnya. Rumah penghabisan, tempat segala hiruk pikuk dunia ditimbang, lalu ditunaikan hak orang-orang yang punya hak. Serta diambilkan bayaran kekurangan orang-orang yang berbuat curang.

Nun di sana. Kita akan bersua. Seperti air sungai yang mengalir berliku, kesana pula bermuara pada akhirnya. Tetapi akhirat bukan sekadar tempat berkesudahan yang . terpaksa. Atau tempat pembuangan segala isi alam semesta. Ya, pada ketetapan Allah, taqdir dan kuasa-Nya, tak ada yang bisa lari dari akhirat. Tapi bagi orang-orang beriman akhirat adalah juga tempat menggantungkan cita-cita, harapan, dan puncak kebahagiaan abadi. Lain halnya bagi orang-orang yang bergelimang dosa, bergumul dengan syetan dan hawa nafsu, akhirat adalah tempat perhempasan yang menyakitkan. Seperti onggokan sampah yang tak kuasa terbawa arus. Melaju. Di sana pula sampah itu mengalir. Lalu terhenti seketika. Menebus segala kotorannya. Dengan cara yang sangat mengerikan. Ia mungkin dahulu mengatakan, seperti yang diabadikan Al-Qur’an, "Dan tentu mereka akan mengatakan (pula), "Hidup hanyalah kehidupan kita di dunia saja, dan kita sekali-kali tidak akan dibangkitkan. " (QS. Al-An’am: 29). Maka manusia sampah punya akhirannya sendiri di kampung akhirat sana. Akhiran sebagai sampah, atau bahkan lebih nista dari sampah. Suasananya sangat mengharukan. "Dan, jika kamu (Muhammad) melihat ketika mereka dihadapkan ke neraka, lalu mereka berkata, ‘Kiranya kami dikembalikan (ke dunia) dan tidak mendustakan ayat-ayat Tuhan kami, serta menjadi orang-orang yang heriman,’ tentulah kamu melihat suatu peristiwa yang mengharukan." (Al-An’am: 27).

Akhirat. Jauh dan dekatnya sangat tergantung pada cara kita mengejarnya. Lama dan sebentarnya tergantung bagaimana kita berjalan menuju ke sana. Sejatinya kita bertaruh untuk sesuatu yang sangat pasti. Akhirat yang sering terlupakan. Ia semestinya hadir di setiap jenak hidup kita, meski terasa asing dan tak tergambarkan. Ia dekat tapi sering dianggap jauh. Ia nyata, bilapun sering dirasa sebatas cerita. Seperti pemangsa bertaring, ia bisa menyergap tiba tiba, tapi betapa banyak orang yang tak pernah menyadarinya.

Akhirat. Seperti sahabat sehati. Ia akan terus melambai, bila kita masih jujur padanya. Ia akan merindukan kita, bila kita juga merindukannya. Ia akan menyiapkan sambutan untuk kita, bila kita masih setia berjalan menuju kepadanya. Kesetiaan seorang Mukmin yang mencari cinta sejati: cinta yang menghidupkan dan memastikan harapan. Kesetiaan seorang Mukmin yang mengerti bahwa dunia hanya teman sementara, kawan yang menangkar mawar tapi juga durinya, madu tapi juga racunnya, manis tapi juga pahitnya.

Maka, di tengah hidup yang sangat penat dan melelahkan, bertanya tentang kampung akhirat yang abadi adalah keniscayaan. Di tengah gemerlap hidup yang memacu peradaban materinya, bertanya tentang kabar sahabat sejati adalah kemestian: apa kabar akhirat?

Tapi ia akan lebih berhak bertanya: apa kabar kita sendiri? Masihkah kita menjadi pengejar akhirat? Di sini segalanya terasa sangat adil. Bila kita menjauh, Ahirat pun akan menjauhi kita. Bila kita menghindarinya, ia juga akan menghindari kita. Tapi bila kita mendekat, akhirat pun akan mendekat.

Kita mesti bersyukur, dari sisi yang lain, betapa dekat atau jauhnya akhirat bisa kita rasa, di lubuk hati yang paling dalam, di kedalaman iman yang bercahaya, kita bisa bertanya. Pada segala suasana jiwa, gambaran pikiran dan bahkan pilihan selera.

Maka tutur kata kita adalah bahasa akhirat kita, menjauhi atau mendekati. Kerja-kerja dan kebanggaan prestasi kita adalah lorong-lorong akhirat kita, menjauhi atau mendekati.

Kadar spiritualitas ruhani kita, adalah tambatan-tambatan akhirat kita, kuat atau lemahnya. Juga obsesi-obsesi kemanusiaan kita, adalah prasasti yang ditonggakkan di muka, tentang akhirat kita, kokoh atau lemahnya. Sedangkan jumlah terhitung dari kebajikan-kebajikan kita, adalah benih-benih pengharapan akan penerimaan Allah, kunci-kunci akhirat kita, berjodoh atau tidaknya.

Akhirat, sahabat abadi itu masih menyisakan kesempatan untuk kita. Setidaknya hingga jenak ini. Di sini. Saat kita masih seperti ini. Jadi, cermin itu ada di sini, bersama diri kita sendiri, bersama kadar iman kita, di tengah kadar pasang surutnya. Sementara segala dosa dan kesalahan kita, adalah bebatuan terjal yang menghambat perjumpaan dengan sahabat sejati: akhirat yang dirindukan.

Segala yang hidup punya pertanda. Begitu pun akhirat, tempat segala kehidupan sejati bersaksi, ada banyak pertanda. Apakah ia bersama kita atau tidak. Apakah ia mendekat kepada kita atau menjauh. Pada cermin jati diri itu ada cerita, tentang akhirat yang kian menjauh atau lebih mendekat.

Bila suatu hari, terasa sangat sepi, mungkin itu tandanya kita harus bertanya, adakah akhirat telah menjauhi kita?

Tutur kata kita adalah bahasa akhirat kita, menjauhi atau mendekati. Kerja-kerja dan capaian prestasi kita adalah lorong-lorong akhirat kita, mcnjauhi atau mendekati. Pada itu semua, mari kita bertanya, sejujurnya. Wallahu’alam


Kamis, 05 Februari 2009



Mata hati


Dua orang pemuda tampak berdiskusi di sebuah mulut gua. Sesekali, mereka memandang ke arah dalam gua yang begitu gelap. Gelap sekali! Hingga, tak satu pun benda yang tampak dari luar. Hanya irama suara serangga yang saling bersahutan. “Guru menyuruh kita masuk ke sana. Menurutmu, gimana? Siap?" ucap seorang pemuda yang membawa tas besar. Tampaknya, ia begitu siap dengan berbagai perbekalan.

"Menurut petunjuk guru, gua ini bukan sekadar gelap. Tapi, panjang dan banyak stalagmit, kelelawar, dan serangga," sahut pemuda yang hanya membawa tas kecil. Orang ini seperti punya kesiapan lain di luar perbekalan alat. "Baiklah, mari kita masuk!" ajaknya sesaat kemudian.

Tidak menyangka dengan ajakan spontan itu, pemuda bertas besar pun gagap menyiapkan senter. Ia masuk gua beberapa langkah di belakang pemuda bertas kecil. "Aneh!" ucapnya kemudian. Ia heran dengan rekannya yang masuk tanpa penerangan apa pun.

Dari mulai beriringan, perjalanan keduanya mulai berjarak. Pemuda bertas besar berjalan sangat lambat. Ia begitu asyik menyaksikan keindahan isi gua melalui senternya: kumpulan stalagnit yang terlihat berkilau karena tetesan air jernih, panorama gua yang membentuk aneka ragam bentukan unik, dan berbagai warna-warni serangga yang berterbangan karena gangguan cahaya. "Aih, indahnya!" gumamnya tak tertahan.

Keasyikan itu menghilangkannya dari sebuah kesadaran. Bahwa ia harus melewati gua itu dengan selamat dan tepat waktu. Bahkan ia tidak lagi tahu sudah di mana rekan seperjalanannya. Ia terus berpindah dari satu panorama ke panorama lain, dari satu keindahan ke keindahan lain. Ia terlena dengan keindahan di sekelilingnya.

Di ujung gua, sang guru menanyakan rahasia pemuda bertas kecil yang bisa jauh lebih dulu tiba. "Guru…," ucap sang pemuda begitu tenang. "…dalam gelap, aku tidak lagi mau mengandalkan mata zhahir. Mata batinkulah yang kuandalkan. Dari situ, aku bisa merasakan bimbingan hembusan angin ujung gua, kelembaban cabang jalan gua yang tak berujung, batu besar, dan desis ular yang tak mau diganggu," jelas sang pemuda begitu meyakinkan..”

Saudaraku,
Ada banyak "gua" dalam hidup ini.. Gua ketika seseorang kehilangan pekerjaan. Gua di saat gadis atau lajang terus-menerus tertinggal peluang berjodoh. Gua di saat orang alim menjadi sulit dipercaya. Gua ketika bencana begitu buta. Dan, berbagai "gua" lain yang kadang dalam gelapnya menyimpan seribu satu keindahan yang membuai.

Sebagian kita, suka atau tidak, harus menempuh rute jalannya yang gelap, lembab, dan penuh jebakan. Sayangnya, tidak semua kita mampu.menyiapkan bekal secara pas. Kita kadang terjebak dengan kelengkapan alat. Atau terjebak pada kelengkapan sarana atau fasilitas, juga kekayaan. Dan, melupakan bekalan lain yang jauh lebih jitu dan berdaya guna: kejernihan mata hati.

Mata hatilah yang mampu menembus pandangan di saat "gelap". Mata hatilah yang bisa membedakan antara angin tuntunan dengan tipuan tipuan. Kejernihannya pula yang bisa memantulkan ‘cahaya’ yang sejati.

Saudaraku,

Perjalanan hidup kita tak ubahnya seperti menyusuri gua yang gelap. Kalau mata hati kita belum setajam itu, maka carilah teman hidup yang punya mata hati yang jernih. Teman hidup yang memiliki bekalan kekuatan dan kematangan jiwa. Yang telah teruji istiqomah dari sekian banyak tadribat amal dan cobaan hidup serta ketekunan meraut ketajaman mata hatinya. Jadikan dia pemimpin dan penunjuk arah perjalanan kita. Semoga dengannya kita bisa menemukan jalan keluar dari gua dan selamat dari gulita dunia. Amiin ya robbal’alamin..

Ketekunan itu mahal

Di sebuah negeri hiduplah dua orang pengrajin yang tinggal bersebelahan. Mereka adalah pengrajin emas dan pengrajin kuningan. Keduanya telah lama menjalani pekerjaan itu, sebab itu adalah pekerjaan yang diwariskan secara turun-temurun. Telah banyak pula barang yang dihasilkan: cincin, kalung, gelang, dan untaian rantai penghias.

Setiap akhir bulan, mereka membawa hasil kerja itu ke kota. Hari pasar, demikian mereka menyebut hari itu. Mereka akan menjual barang-barang logam itu dan membeli keperluan selama sebulan. Beruntunglah pekan depan akan ada rombongan tamu agung mengunjungi kota dan bermaksud memborong barang-barang yang ada disana. Kabar ini tentu membuat mereka senang. Tentu, berita ini mendorong para pedagang agar membuat lebih banyak barang untuk dijajakan. Tak terkecuali dua orang pengrajin yang menjadi tokoh kita ini.

Siang-malam terdengar suara logam ditempa. Tungku-tungku api seakan tak pernah padam. Kayu bakar yang membara seakan mewakili semangat keduanya. Percik-percik api yang timbul tak pernah dihiraukan mereka. Keduanya sibuk dengan pekerjaannya masing-masing. Sudah puluhan cincin, kalung, dan untaian rantai penghias telah dihasilkan. Hari pasar makin dekat. Dan, lusa adalah waktu yang tepat untuk berangkat ke kota.

Hari pasar telah tiba dan keduanya pun sampai di kota. Hamparan terpal telah digelar, tanda barang dagangan siap dijajakan. Keduanya pun berjejer berdampingan. Tampaklah barang-barang logam yang telah dihasilkan. Namun, ah sayang.., ada kontras diantara keduanya. Walaupun terbuat dari logam mulia, barang-barang yang dibuat oleh pengrajin emas tampak kusam. Warnanya tidak berkilau. Ulir-ulirnya kasar. Pokok-pokok simpul rantai tidak rapi. Seakan pembuatnya adalah orang yang tergesa-gesa.

”Ah, biar saja,” demikian ucapan yang terlontar saat pengrajin kuningan menanyakan kenapa perhiasan kawannya tampak kusam. ”Setiap orang akan memilih daganganku, sebab emas selalu lebih baik dari kuningan,” ujar pengrajin emas lagi. ”Apalah artinya logam buatanmu dibanding logam mulia yang kupunya. Aku akan membawa uang lebih banyak darimu”

Pengrajin kuningan hanya tersenyum. Ketekunannya mengasah logam membuat semua hasil karyanya lebih bersinar. Ulir-ulirnya halus. Lekuk-lekuk cincin dan gelang buatannya terlihat seperti lingkaran yang tak putus. Liku-liku rantai penghiasnya pun lebih sedap dipandang mata.

Ketekunan memang mahal. Hampir semua orang yang lewat tak menaruh perhatian pada pengrajin emas. Mereka lebih suka mendatangi cincin dan kalung kuningan. Begitupun tetamu agung yang berkenan datang. Mereka pun lebih menyukai benda-benda kuningan itu dibandingkan dengan logam mulia. Sebab, emas itu tidaklah cukup membuat mereka tertarik dan mau membelinya. Sekali lagi, terpampang kekontrasan di hari pasar itu. Perajin emas tertegun diam dan perajin kuningan tersenyum senang.

Hari pasar usai. Para tetamu telah kembali pulang. Kedua pengrajin itu pun telah membereskan barang dagangan. Dan, keduanya mendapat pelajaran dari apa yang telah mereka lakukan hari itu.

Teman, ketekunan memang mahal. Tak banyak orang yang bisa menjalaninya. Begitupun kemuliaan dan harga diri. Tak banyak orang yang menyadari bahwa kedua hal itu tak berasal dari apa yang kita sandang hari ini. Setidaknya tindak-laku kedua pengrajin di atas adalah potongan siluet kehidupan kita.

Ketekunan adalah titin jalan panjang yang licin berliku. Seringkali jalan panjang itu membuat kita tergelincir dan jatuh. Sering pula titian itu menjadi saringan penentu bagi setiap orang yang hendak menuju kepada kebahagiaan di ujung simpulnya. Namun percayalah, ada balasan bagi ketekunan. Di ujung sana ada sesuatu yang menunggu setiap orang yang mau menekuni jalan itu.

Emas dan kuningan tentu punya nilai yang berbeda. Tapi, apakah kemuliaan dinilai hanya apa yang disandang keduanya? Apakah harga diri hanya ditunjukkan dari simbol-simbol yang tampak dari luar? Sebab, kita sama-sama belajar dari pengrajin kuningan bahwa kemuliaan adalah buah dari ketekunan. Dan, bahwa kemalasan akan membuahkan kelemahan jiwa.

Membentuk ketekunan mungkin hampir sama sulitnya dengan menempa logam, bahkan lebih sulit. Tanyakan saja kepada mereka yang berusaha untuk tekun qiyamullail, betapa sulit dan keras usahanya. Atau tanyakan kepada mereka bagaimana beratnya membiasakan diri shoum sunnah. Atau coba tanyakan kepada mereka yang sudah menekuni tilawah Qur’an 10 halaman hingga satu juz setiap harinya. Tanyakan kepada mereka yang punya hafalan 5 juz. Atau coba tanyakan pula kepada saudara kita yang sudah berusaha menekuni diri selalu hadir di majelis halaqoh dan majelis taklim. Apalagi mereka yang menekuni peran sebagai guru, murabbi atau ustadz. Hanya orang bermental baja yang bersedia menekuni pekerjaan itu.

Sekali lagi, ketekunan itu mahal. Dan, ketekunan itulah yang bisa merubah nilai atau harga diri seseorang, walaupun pada mulanya ia hanyalah berasal dari keluarga "kuningan" bukan keluarga "emas". Karakter diri yang kuat, kedewasaan, daya juang yang tinggi dan kematangan bertindak hanya mungkin diraih oleh orang-orang yang punya ketekunan dan mau berproses untuk bisa menjadi tekun. Tingkat ketekunan adalah ukuran yang bisa dipercaya untuk menilai seseorang.

Bisa jadi saat ini kita pandai, kaya, punya kedudukan yang tinggi, dan hidup sempurna layaknya emas mulia. Namun, adakah semua itu berharga bila ulir-ulir hati kita kasar dan kusam? Adakah itu mulia, jika lekuk-lekuk kalbu kita koyak dan penuh dengan tonjolan-tonjolan kedengkian? Adakah itu semua punya harga jika pokok-pokok simpul jiwa yang kita punya tak dipenuhi dengan simpul-simpul ikhlas dan perangai nan luhur?

Teman, mari kita asah kalbu dan hati kita agar bersinar mulia. Mari kita bentuk ulir dan leku-lekuk jiwa kita dengan ketekunan agar menampilkan cahaya-Nya. Susunlah simpul-simpul itu dengan jalinan keluhuran budi dan perilaku. Tempalah dengan kesungguhan diri agar hati kita tidak keras dan menjadi lembut, luwes, serta mampu memenuhi hati orang lain. Percayalah, ada imbalan untuk semua itu. Amin.

disadur dari www.oaseislam.com